Sungguh ini bisa dikatakan sebuah iron. Di Beijing, mahasiswa yang belajar bahasa indonesia atau bahasa melayu diberikan semacam “gelar” nama yang menggunakan nama orang indonesia yang kurang lebih agak islami seperti yusuf suparno, paimin ismail,walaupun mereka bukan beragama islam bahkan bukan merupakan warga indonesia, mereka amat bangga mengunakan nama tersebut, karena mereka banggga terhadap budaya, khususnya budaya indonesia. Mahasiswa di Beijing strunggle for lifenya sangat besar dibanding mahasiswa yang ada di indonesia pada umumnya. Mahasiswa beijing lebih kuat fisik dan mempunyai kemauan untuk memperoleh pengetahuan atau belajar lebih tinggi dibanding indonesia. Contohnya saja di kampus II Universitas Ahmad Dahlan, banyak mahasiswa yang mengeluh karena di kampus tersebut memiliki empat lantai tanpa menggunakan eskalator atau lift. Padahal dengan memiliki empat lantai kita bisa mengambil manfaatnya karena bisa menguatkan jantung serta mampu menurunkan berat badan bagi yang mempunyai masalah dengan berat badannya.
Bicara tentang sastra yng dikaitkan dengan satu abad Muhammadiyah, Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang concern di bidang islamic cultural movement dengan bukti nyata, Muhammadiyah mampu mendirikan sekolah untuk mencerdaskan generasi muda dari Taman kanak – kanak hingga perguruan tinggi.
Disini yang paling ditekankan ialah pada perguruan tinggi, dimana di Universitas Ahmad Dahlan memiliki fakultas sastra. Masih banyak orang yang memandang sastra dengan sebelah mata, padahal mereka tidak tahu bahwa sastra dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari. Gagasan ide tentang sastra harus ditampilkan pada masyarakat luas, apa itu sastra? saya yakin, masyarakat yang memandang sebelah mata terhadap sastra itu belum mengetahui apa itu sastra, dan disinlah tugas kita untuk memperkenalkan lebih jelas apa itu sastra? Citra sastra yang harus disampaikan dan ditekankan kepada masyarakat luas ialah dengan membaca. Karena membaca ialah salah satu bentuk pengembangan diri. Jadi, dengan membaca kita dapat meningkatkan diri kita ke dalam beberapa aspek. Untuk meningkatkan diri kita, pertama – tama harus memupuk minat untuk membaca terlebih dahulu.
Kita sebagai mahasiswa sastra sudah selayaknya memiliki obsesi untuk mengharumkan dan mengenalkan sastra kepaa masyarakat luas, sehingga pertanyaan mengenai apa itu sastra mendapatkan presepsi positif di dalam paradigma masyarakat. Sastra itu sendiri adalah social and cultural phenomena. Sedangkan product literature ialah fenomena yang dihasilkan dalam cultural phenomena pada masyarakat.
Teori structural dari Rusia/ new criticism menekankan pada pengetahuan dan perkembangan teori sastra, dimana fenomena nama penyair perempuan diganti dengan nama laki – laki karena pada saat itudi new england sangatlah tabu bila ada penyair perempuan. Karyanya pasti tidak laku terjual. Dengan karya sastra kita bisa menjelajahi dunia, bisa menganalisis sebuah masalah. Contohnya kasus KDRT yang sekarang sedang merebak, jauh dulu sebelum kasus KDRT merebak di muka umum, karya sastra telah mengungkapkanya sebelumnya. Jadi, bertanyalah kepada karya sastra jika ingin menganalisis masalah sosial atau menganalisis karya sastra itu sendiri.
Disini pemateri memberikan ciri – ciri 3 karakteristik karya sastra:
- Karya sastra sebagai karya seni
Dimana karya sastra tersebut diproduksi dengan imajinasi
Contoh: musik, lukisan, gambar, citra perempuan cantik, gemuk àvisual
- Karya sastra sebagai bahasa
Bahasa yang dipakai dalam karya sastra ialah bahasa yang universal serta mempunyai makna yang universal juga.
- Fakta
Apa saja yang di katikan dengan fakta / realita yang ada dilingkungan kita.
Selain itu, sisi lain sastra ialah sebagai Komunikasi yang efektif ialah dengan karya sastra. Sebab karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan sesuatu yang tidak bisa di sampaikan dengan alat lain.
Contohnya: Sebut saja kita sedang meneliti american study yang subjectnya kehidupan beragama di Amerika pada novel scarlet letter. Di dalamnya kita bisa melihat cerminan masyarakat pada masa itu, karena karya sastra ialah komunikasi paling efektif, sehingga kita juga bisa merasakan apa yang dirasakan pengarang pada masa itu. Dengan karya sastra kita juga bisa melihat berbagai macam hal dan dimana saja tidak hanya di new england seperti pada masa novel itu dibuat. Could be happen everywhere
Indonesia ialah negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar. Kita bisa flash back mengenang bagaimana islam masuk di indonesia khususnya berkembang di pulau jawa. Semua itu berkat karya sastra. Masyarakat indonesia dulu senang sekali dengan karya sastra, saat itu karya sastra dipandang sebagai pedoman hidup, sehingga digunakan pada ulama/ wali untuk kendaraan islamisasi dengan mengems karya sastra tersebut dengan konsep islam. Contohya Ramayana story memasukan konsep – konsep islam di dalam ceritanya à hikayat mi;raj. Fenomena sosial yang serupa tak hanya di dpatkan pada masa lalu yang mengakar hingga saat ini tetapi juga bisa di dapatkan pada karya sastra, sepeti yang sedang menjamurnya teenlit di kalangan remaja saat ini.
Bagaimana melihat karya sastra?
Ada karya sastra yang dapat ditransformasikan dalam bentuk lain:
- Puisi menjadi musik
- Puisi menjadi lukisan
- Novel menjadi film
Semua itu dibahas pada mata kuliah yang mempelajari tentang tranformasi pada karya sastra seperti puisi menjadi lirik musik. Hal itu disebut dengan ikranisasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar